Header Ads

Kasus Puan Maharani dalam Perspektif Komunikasi



Kasus Puan Maharani terkait statementnya soal Sumatera Barat menarik untuk kita baca dalam perspektif komunikasi, baik itu komunikasi politik, psikologi komunikasi, komunikasi massa, komunikasi budaya dan komunikasi pemasaran. Saya yakin Puan pasti paham dan mengerti tentang teori komunikasi, karena dia pernah belajar Imu Komunikasi Massa di Universitas Indonesia. Konten Puan soal Sumatera Barat dan Pancasila menjadi panah beracun yang berbalik arah. Puan teledor, kepleset atau mungkin dia sudah lupa teori komunikasi yang ia pernah pelajari saat di kampus. Meski sebenarnya ada peran media dalam kasus Puan kali ini, yaitu media yang jeli mengambil angle berita sehingga mampu mengaduk aduk emosi publik. Saya tidak akan membahas histori PDIP di Sumatera Barat dalam konteks angka, tetapi ingin melihat kasus Puan dalam perspektif komunikasi yang saya sebutkan di atas. Konten yang Puan luncurkan fatal dari sisi komunikasi, sejatinya Puan meluncurkan konten komunikasi yang dimana bisa mendekatkan diri dengan masyarakat Sumatera Barat, bukan sebaliknya. Kalau Anda yan pernah belajar komunikasi pasti paham tentang komunikasi budaya, dimana kita diajarkan bagaimana kita mempengaruhi persepsi publik seolah - olah kita adalah bagian dari masyarakat tertentu meski sebenarnya kita tidak ada kaitan secara emosi dengan masyarakat setempat. Mengapa Puan tidak meluncurkan konten komunikasi perihal Soekarno yang pernah tinggal di Padang, Sumatera Barat selama lima bulan. Jika konten ini yang ia sampaikan maka akan lain ceritanya. Andaikan konten ini yang Puan sampaikan, Puan seolah - olah ingin bicara kepada masyarakat Sumatera Barat, ayolah dukung kami, toh kami juga bagian dari keluarga warga Sumatera Barat. Kakek saya lama loh tinggal di Padang dan sangat berkesan. Kakek saya (Seokarno red) susah payah ketika itu ke Padang, tapi dengan kecintaan rakyat Sumatera Barat kakek saya akhirnya betah juga tinggal di Padang selama lima bulan, terima kasih Padang, terima kash Sumatera Barat, meskipun partai kami belum pernah juara di Sumbar tapi saya sudah menganggap Sumatera Barat bagian dari keluraga karena kakek saya pernah menjadi warga Sumatera Barat" andaikan konten ini yang Puan sampaikan, saya yakin certitanya akan lain. Seperti diketahui bahwa Soekarno pada pertengahan Februari 1942, Belanda terdesak oleh Jepang. Belanda ingin membawa Sukarno yang diasingkan di Bengkulu ke Australia dengan kapal yang disiapkan di Padang. Dikirimlah utusan menjemput Sukarno di Bengkulu. Di Padang Soekarno tinggal di rumah Ego Hakim.(Historia) Dalam konteks Komunikasi Pemasaran, konten Puan juga salah fatal, Ketika kita ingin menjual produk disebuah pasar yang sudah dikuasai produk lain dan kurang mendapatkan respon pasar maka pasti disitu ada gap atau kesenjangan. Disitulah gap analisis dilakukan, kira - kira apa yang membuat pasar kurang menerima produk tersebut. Faktanya tidak selalu produknya yang buruk, tetapi sering terjadi karena komunikasi pemasarannya yang tidak memerhatikan aspek psikografis customer, psikologi pasar sehingga meski ada perbaikan produk sekalipun tetap tidak mendapatkan rrespon pasar yang positif. Bisa jadi kurang diterimanya PDIP di Sumatera Barat bukan karena partai ini nasionalis, tetapi lebih kepada aspek psikografisnya. Nah Puan sebenarnya bisa mengatasi ini karena kakeknya punya sejarah antropologi di Sumatera Barat, mengapa bukan konten ini yang ia sampaikan kepada masyarakat Sumatera Barat. Aspek ini nantinya erat kaitannya dengan komunikasi budaya, Puan pasti paham soal teori ini karena dia pernah studi komunikasi di UI, Jakarta. Sumatera Barat daerah yang cukup kuat tingkat religiusnya sehingga Puan bisa mengurangi gap ini dengan cerita kakeknya yang pernah tinggal di Sumatera Barat. Dalam identitas Puan itu sarat dengan sejarah Sumatera Barat yang didapatkan dari Soekarno. Selain pernah tinggal di Padang, Puan juga bisa cerita tentang hubungan Soekarno dengan Muhamamd Hatta. Dua tokoh legendaris Indonesia. Hatta adalah tokoh dari Sumatera Barat dan Soekarno pernah bersama. Mengapa Puan kan menceritakan hubungan keduanya yang meskipun ada perbedaan tetapi saling menghargai, dan Soekarno menghargai tokoh Sumbar tersebut, begitupun sebaliknya. Konten ini akan berdampak pada psikis orang Sumbar bahwa ternyata Puan punya sejarah indah dengan orang Sumatera Barat. Dalam teori komunikasi, terkadang kita harus menembakan ke arah samping meskipun sebenarnya target kita bukan berada di samping. Menceritakan bahwa Seokarno pernah tinggal di Padang, Seokarno sudah menjadi bagian keluarga Sumbar dan pernah bekerjasama dengan Hatta tokoh Sumbar, itu cara membidik target dari samping. Target sebenarnya adalah agar PDI P diberikan tempat khusus di Sumbar, kira - kira ilustrasinya seperti itu. Puan memang mulai sekarang harus sering - sering buka buku kuliahannya dulu supaya ingat tentang komunikasi sehingga kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Kasus Puan ini bisa menjadi pelajaran bagi politisi lainnya, karena politik dan komunikasi itu menyatu. Ketika politsi aalah berkomunikasi maka dampaknya akan menyiram muka politisi itu sendiri dan ini serius efeknya. Penulis, Karnoto

No comments

Powered by Blogger.