Header Ads

Re-Branding Bukan Sekadar Mengubah Logo



Anda pernah melihat iklan Djarum Cokelat 76? Coba Anda perhatikan dengan detail apa yang mereka lakukan sebenarnya dengan komunikasi marketingnya saat ini. Mereka sebenarnya sedang melakukan Re-Branding.

Branding atau Re-Branding bisa dilihat dari komunikasi pemasaran yang dilakukan perusahaan untuk produknya ataupun untuk corporatenya. Sekarang kita lihat gaya komunikasi pemasaran Djarum Cokelat 76, kalau Anda perhatikan beberapa tahun ini maka sangat tampak mereka sedang melakukan Re-Branding.

Disana akan ditemukan bagaiamna upaya Djarum Cokelat 76 mengubah persepsi customer terhadap Djarum Cokelat dari orangtua ke generasi muda. Makanya komunikasi pemasaran yang dilakukan baik melalu iklan di televisi, event maupun packsing produknya sangat kental dengan nuansa anak muda.

Upaya yang dilakukan Djarum Cokelat 76 sebenarnya pernah juga dilakukan Sampoerna Kretek, dimana mereka juga berupaya menggeser pasar dari pasar orangtau ke pasar anak - anak muda. Jadi jangan takut melakukan Re-Branding kalau memang dirasa itu dibutuhkan.

Hanya saja Anda mesti mengetahui analisisnya, mulai dari peluang pasar dan pasar yang saat ini digarap apakah ada problem atau tidak? Kalau tidak ada problem serius maka sebaiknya dikaji ulang rencana Re-Branding itu.

Namun jika ada problem terhadap pasar yang kita bidik selama ini maka segera lakukan Re-Branding dengan memperhatikan sejumlah aspek agar ketika Re-Branding itu dilakukan tidak menimbulkan persoalan baru.

Sayangnya sering salah kaprah, sebagian orang menganggap aktivitas Re-Branding itu hanya urusan mengubah logo padahal itu hanya satu item kecil dari proses Re-Branding. Kalau hanya perubahan logo tanpa ada filosofi, tanpa mengerti konsep komunikasi pemasaran maka pada hakikatnya Anda tidak sedang melakukan Re-Branding, namun hanya mengubah logo.

Logo memang bagian dari aktivitas Re-Branding tetapi itu hanya bagian kecil, ada yang lebih penting dari itu semua yaitu produk, manajemen dan komunikasi pemasarannya. Jadi aktivitas Re-Branading itu komprehensif bukan sekadar mengubah logo.

Realitas anggapan bahwa Re-Branding itu hanya sekadar logo biasanya terjadi pada pelaku UMKM karena tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk membuat konsep Re-Branding. Tapi pada perusahaan besar itu jarang terjadi karena SDM mereka cukup memadai, mereka memiliki departemen khsusu MarComm (Marketing Communication), mereka punya SDM khsusu manajamen, dan lain sebagainya.

Tapi sebenrarnya pelaku UMKM pun bisa melakukan Re-Branding dengan perfect asalkan memahami konsepnya,mengerti filosofinya dan menguasai teori MarCommnya.Kalau tidak maka pasti yang terjadi menganggap telah melakukan Re-Branding hanya ketika mengubah logo. ***

No comments

Powered by Blogger.