Re-Branding Ditengah Pandemi, Pentingkah?

Doc/Foto: RizkyKonveksi


Re-branding bisa kapanpun dilakukan supaya upaya penyegaran dan terkadan membersihkan nama baik brand.
~ Karnoto ~

Melihat beranda di sosial media beberapa pelaku usaha melakukan re-branding ditengah muslim pandemi Covid-19. Pertanyaanya adalah sejauhmana urgensi melakukan re-branding terhadap brand kita?

Re-branding pada dasarnya bisa dilakukan kapanpun, tidak harus dilakukan karena ada pandemi karena yang menjadi pertimbangan bukanlah pandemi melainkan kondisi brand kita. Bisa saja re-branding dilakukan dalam situasi normal.

Ada beberapa tujuan mengapa brand melakukan re-branding, yaitu ada stigma buruk dengan brand yang selama ini ada.Ini terjadi pada produk komersial, personal maupun organisasi atau perusahaan.

Contoh adalah re-branding yang dilakukan Peterpen, group musik dengan nama besar Ariel. Mereka melakukan re-branding ketika Ariel sebagai sosok sentral group tersebut tercemar karena kasus asusila dengan seorang artis.

Mereka melakukan re-branding dengan mengubah logo group dan namanya, semula Peterpen kini menjadi Noah. Studi kasus itu faktor citra yang buruk menjadi pertimbangan utama.

Lalu ada pula branda Djarum Cokelat yang melakukan re-branding dengan desain dan strategi komunikasi pemasarannya. Jika semula rokok ini akrab dengan citra rokoknya orangtua, kini dilakukan re-branding dengan gaya anak muda.

Studi kasus ini adalah re-branding dalam rangka penyegaran dan memperluas pasa dari orangtua ke pasar muda. Dan sah - sah saja karena mungkin pasar yang selama ini ada belum mencukupi.

Ada juga studi kasus re-branding Kota Jogkarta menjadi Kota Istimewa yang semula dibranding menjadi Kota Pelajar dan Kota Budaya. Ini juga untuk menyegarkan city branding Kota Jogjakarta.

Jadi, re-branding memang dilakukan sebuah brand menyesuaikan kebutuhannya.Dan pastinya kebutuhan masing - masing brand berbeda - beda.

Penulis,
Karnoto

No comments:

Post a comment

Pages