Membedah Personal Tagline "Al-Amin" Nabi Muhammad




Tagline tanpa diterjemahkan melalui aktivasi branding maka tidak akan berfungsi apapun kecuali hanya sekadar tulisan. 

Penulis | Karnoto
Founder MahartiBrand

Tagline merupakan representasi dari sebuah brand, artinya untuk melihat ruh atau misi suatu brand bisa dilihat salah satunya adalah melalui tagline brand itu sendiri. Dan ini berlaku bagi semua jenis brand, apakah itu  brand produk komersial, brand perusahaan, brand lembaga, brand kota maupun personal brand.


Untuk melihat apakah tagline suatu brand bekerja atau tidak bisa dilihat dari aktivasi branding yang dilakukan. Aktivasi branding inilah semacam penerjemah tagline tersebut sehingga khalayak melihat brand itu sendiri secara utuh.


Tagline tanpa diterjemahkan melalui aktivasi branding maka tidak akan berfungsi apapun kecuali hanya sekadar tulisan. Tools aktivasi branding sendiri paling tidak ada empat yaitu advertising, event, public relation dan media planning. Dan semua tools itu harus saling terkoneksi satu sama lain.


Pada tulisan ini saya ingin membedah bagaimana tagline Al-Amin yang melekat pada Nabi Muhammad bekerja dengan baik sampai penetrasinya luar biasa dan memiliki pengikut loyal.  


Menurut literatur yang saya baca dari beberapa buku, baik Sirah Nabawiah maupun buku The Great Nabi Muhammad dan buku The Arabic History diketahui bahwa tagline personal Al-Amin Nabi Muhammad sudah melekat sebelum diangkat menjadi seorang nabi.


Dan kalau Anda perhatikan atau baca sejarahnya maka disana akan ditemukan tagline personal Muhammad bekerja dengan baik dengan beragam tools aktivasi branding yang saling terkoneksi satu sama lain sebagaimana teori ilmu branding yang diyakini dizaman modern sekarang ini.


Al-Amin sendiri artinya yang dapat dipercaya. Dan menurut saya tagline ini sangat emosional karena menggunakan kata sifat bukan kata kerja. 


Kata Al Amin yang merupakan kata sifat ini sangatlah tepat dalam teori branding karena bukan saja emosional, tetapi secara harfiah kata sifat memiliki arti kata yang menggambarkan dari kata benda itu sendiri, sedangkan kata kerja adalah kata yang menggambarkan aktivitas, tindakan, kondisi maupun pengalaman.


Artinya tagline personal Al - Amin menggambarkan sosok Nabi Muhammad itu sendiri. Kata ini singkat tapi memiliki makna yang cukup dalam dan ini sesuai dengan teori branding tentang bagaimana memilih kata untuk tagline sebuah brand. 


Beberapa diantara ciri tagline yang baik adalah menggunaan kata sifat, singkat dan tidak lebih dari tiga kata bahkan kalau bisa satu kata tetapi memiliki filosofi kuat yang menggambarkan brand itu sendiri.


Pada kasus tagline personal Al Amin maka telah memenuhi persyaratan soal tagline yang efektif sebagaimana teori branding saat ini. Arti dari AL-AMIN adalah YANG TERPERCAYA. Al-Amin adalah gelar yang diberikan kepada Baginda Rasulullah SAW sehubungan dengan sifat terpuji yang melekat pada diri beliau yakni jujur, bisa dipercaya dan amanah. Kejujuran ini membuat beliau disenangi oleh penduduk Mekkah.


Gelar Al-Amin melekat kepada sosok Muhammad sebelum masa kenabian. Masa kenabian Rasulullah SAW sendiri baru dimulai pada usia 40 tahun dan ditandai dengan diterimanya wahyu pertama saat ia bertahannuts di Gua Hira.


Beberapa sumber lain menyebutkan bahwa gelar Al-Amin ini sudah dilekatkan pada diri Nabi Muhammad SAW sejak beliau kecil. Sejak kecil, ia memang sudah ikut berdagang bersama dengan kakeknya. Dari perniagaan ini ia belajar sifat amanah, jujur, menghidari riba, akad dan lain sebagainya.


Sifat jujur, amanah dan bisa dipercaya inilah yang membuat nama Muhammad harum di hadapan penduduk Mekah termasuk Khadijah yang dikemudian hari menikahi Nabi.


Muhammad Al-Amin, sebuah tagline personal yang luar biasa karena mampu bekerja dengan baik. Ini sesuai  konsep teori branding dizaman modern padahal Nabi Muhammad hidup beberapa abad lalu.


Sekarang kita lihat bagaimana aktivasi branding yang dilakukan dan kita kaitkan dengan teori branding yang ada di zaman modern sekarang.


Seperti saya sebutkan di atas bahwa aktivasi branding adalah sebuah proses aktivitas untuk menerjemahkan tagline brand melalui berbagai macam tools dan dilakukan secara kontinue serta terkoneksi satu sama lain.


Artinya ketika tagline Al-Amin tersemat dalam personal brand Muhammad maka aktivasinya harus sesuai dan selaras dengan tagline tersebut.


Sekarang kita preteli satu persatu aktivasi branding yang dilakukan Nabi Muhammad dengan 4 tools sebagaimana teori branding. Pertama, aktivasi branding melalui event.


Tidak ditemukam dalam aktivitas Nabi Muhammad yang lepas dan menciderai tagline Al Amin. Baik aktivasi branding event berdagang, bersosial maupun dalam keluarganya.


Begitupun aktivasi branding yang dilakukan melalui public relation. Konten bicara Nabi Muhammad selalu selaras dengan tagline personal Al Amin. 


Saat aktivasi branding melalui media maupun advertisingnya pun konsisten selaras dengan tagline personalnya yaitu Al Amin.


Ada beberapa kasus yang menunjukan bahwa Nabi Muhammad konsisten dalam aktivasi brandingnya sehingga terjaga koneksitasnya dengan tagline personalnya Al Amin.


Saat perjanjian Hudaibiah, Nabi Muhammad konsisten dengan perjanjian itu sampai akhirnya orang kafir Quraisy sendiri yang mengkhianati perjanjian tersebut.


Konsisten dan terkonesinya antara aktivasi branding dengan tagline Al Amin membuat ekuitas personal brand Nabi Muhammad menguat.


Bahkan mengakar sampai akhirnya memiliki pendukung loyal. Kuatnya personal brand Muhammad Al Amin bisa dilihat dari sejumlah kisah, paling tidak ada dua peristiwa yang menunjukan betapa kuat dan mengakarnya personal brand Muhammad Al Amin.


Pertama, peristiwa konflik antar suku tentang siapa yang lebih berhak membawa batu hajar azwad ketika itu. Masing - masing suku merasa berhak untuk membawa hajar azwad tersebut.


Hampir saja terjadi pertumpahan darah antar saudara. Beruntung Nabi Muhammad hadir ditengah mereka dan ketika mendengar nama Muhammad yang akan dijadikan rujukan mereka percaya karena personal brand Muhammad Al Amin sudah mengakar. 


Maka oleh Nabi Muhammad ditaruhlah batu tersebut di atas kain dan masing - masing suku memegang ujung kain dan membawanya secara bersama - sama dan peristiwa dramatis ini happy ending.


Peristiwa kedua yang menggambarkan bahwa tagline personal Muhammad Al Aminn kuat dan mengakar adalah saat ia mau hijrah, dimana Ali Bin Abi Thalib diminta mengembalikan semua barang yang dititipkan kepada dirinya dan tahukah Anda siapa yang menitipkan barangnya kepada Muhammad? Ternyata sebagian besar adalah orang kafir Quraisy.


Kita benar - benar banyak belajar kepada Nabi Muhammad bagaimana menjaga personal brand, merawat personal brand dan mengaktivasi personal brand. 


Dari sini saya semakin yakin bahwa Muhammad memang seorang nabi, Qur'an berjalan. Sebab kalau bukan nabi bagaimana mungkin dia bisa melakukan aktivitas yang up to date dengan  teori teori yang lahir di zaman modern seperti sekarang ini. 


Dari Nabi Muhammad kita belajar bagaimana mengelola personal branding, mulai dari pemilihan kata tagline, cara melakukan aktivasi branding.


Dan paling penting dan orang sering lupa bahwa personal branding itu proses, ketika bicara proses maka bicara waktu. Jadi, ketika kita membuat tagline untuk personal branding maka jangan pernah ada dalam fikiran kita kalau personal brand kita akan kuat dalam waktu singkat. ***



 

Pages