KAMMI Re-Branding ?


Sebelum membahas soal KAMMI dan Re-Branding saya ingin mengulik sedikit soal Branding. Mengapa  ini saya tempatkan di awal tulisan? Supaya brand dan branding dipahami secara utuh alias tidak parsial. Sebab kalau parsial maka akan memengaruhi semua hal yang terkait branding.

Di lapangan masih ditemukan pemahaman soal branding yang parsial. Ada yang menilai kalau sudah mengganti logo berikut warnanya menganggap sudah melakukan branding. Padahal itu hanya salah satu bagian dari branding. Branding adalah proses dan merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling terkait. 

Oleh karena satu kesatuan dan proses maka cara bekerjanya pun membutuhkan waktu. Jadi bicara branding itu bukan urusan mengganti logo lalu dibiarkan tanpa ada aktivasi brandinnya. Kalau ini yang dilakukan maka dijamin branding tidak akan bekerja. Selain itu branding juga harus dilakukan secara masif dan kontinue. Aktivasi branding Ini yang dikenal dalam ilmu marketing communication sebagai konsep Integreated Marketing Communication (IMC).

IMC ini adalah konsep komunikasi pemasaran terpadu yang menjadi bagian utama ketika sebuah produk melakukan aktivasi branding termasuk Re-Branding. Jalur IMC itu sendiri terdiri dari empat tools yaitu event, public relation, advertising, media planning. Keempat ini harus memiliki suara yang sama tentang brand suatu produk.

Empat tools branding itu lalu bekerja sesuai dengan fungsinya tetapi memiliki irama yang sama, mulai dari komunikasi visualnya, taglinenya, eventnya, konten advertisingnya termasuk simbol - simbol komunikasi yang dipublikasikan. Konsep ini berlaku untuk semua jenis produk, apakah itu produk komersial, corporate, lembaga termasuk personality seseorang.

Sekarang kita masuk kedalam judul kali ini yaitu KAMMI Melakukan Re-Branding? Karena tidak ada klaim resmi dari KAMMI bahwa mereka melakukan re-branding maka kita hanya bisa membaca dari cara mereka  melakukan komunikasi pemasarannya. Dan apakah KAMMI perlu melakukan re-branding maka kita bisa memakai alat ukur teori product life cycle, yaitu siklus sebuah produk.

Bagi Anda yang pernah studi ilmu Marketing Communication Advertising pasti familiar dengan teori ini, karena ini menjadi bab khusus dalam studi. Ada empat siklus yang akan dialami semua produk, tanpa terkecuali termasuk produk lembaga. Empat siklus itu adalah introduction, growth, mature dan decline.

Nah, biasanya kalau melihat sejumlah kasus Re-Branding akan dilakukan ketika siklus produk tersebut berada pada posis decline atau masa kejenuhan. Saya coba sebutkan beberapa produk yang melakukan ini, diantaranya Djarum Cokelat, group band Peterpan yang melakukan Re-Branding menjadi Noah.

Dalam produk politik, partai yang beberapa kali melakukan Re-Branding adalah PKS. Setidaknya saya mencatat sudah empat kali meski, pertama saat PKS mengubah tagline dari Peduli dan Bersih menjadi Bersih, Peduli dan Profesional. Tagline ini pun kembali diubah dimasa kepemimpinan Anis Matta menjadi Cinta, Kerja dan Harmoni.

Perubahan tagline kembali dilakukan dimasa kepemimpinan Muhammad Sohibul Iman menjadi Berkhidmat untuk Rakyat dan terakhir ditahun 2021 yang mengubah tagline sekaligus memodifikasi logo. Tagline PKS pun diubah menjadi Bersama Melayani Rakyat dan logo diubah dari semula didominasi warna hitam kini berwarna orange.

Pertanyaannya adalah apakah sekarang KAMMI berada di positioning decline atau masa kejenuhan?  Kalau jawabannya iya maka tidak ada jalan lain Re-Branding bisa menjadi pilihan.

Tetapi sebenarnya kalau saya melihat aktivasi branding KAMMI sejak beberapa tahun lalu memang sudah nuansa Re-Branding meskipun tidak diklaim secara resmi bahwa KAMMI melakukan Re-Branding.

Kalau dimasa awal aktivasi KAMMI baik itu melalui event yang diselenggarakan, konten publisitas, iklan luar ruang maupun dalam bahkan komunikasi visualnya brand KAMMI kental dengan posisinya di kanan. Makanya simbol, event, konten komunikasi soal keIslaman mendominasi saat itu.

Namun belakangan aktivasi branding KAMMI sedikit ke tengah. Hal ini bisa kita lihat dari aktivasi branding yang lebih banyak menggunkan konten - konten universal, misalkan saja pada aktivasi branding melalui event. Kalau dulu rekruitmen kader KAMMI menggunakan bahasa arab yaitu Daurah Marhalah kini menjadi sejenis pelatihan kepemimpinan.

Slogan KAMMI yang sering dipublikasikan pun ada perubahan, kalau dulu ada slogan KAMMI Musuh Kebatilan kini menjadi Muslim Negarawan. Jadi, sebenarnya KAMMI telah melakukan Re-Branding meski itu dilakukan hanya pada ruang aktivasi brandingnya dan tidak ada klaim secara resmi bahwa KAMMI melakukan Re-Branding.

Catatan penting saya adalah bahwa selain telah terjadi dinamika internal yang luar biasa dan tidak pernah diprediksikan sebelumnya ada juga yang mesti menjadi kajian serius oleh para alumni KAMMI bahwa telah terjadi perubahan besar soal psikografis sosial politik di Indonesia.

Akan ada bonus demografis ditahun 2030, meningkatnnya klaster middel class muslim di Indonesia, pergerakan teknologi informasi yang akan memengaruhi gaya hidup ditambah akan ada mas transisi kepemimpinan. Variabel ini jelas akan berpengaruh terhadap semua lini termasuk organisasi pergerakan.

Semua itu harus menjadi bahan kajian serius para alumni KAMMI secara jernih dan perdebatan yang dicantolkan pada fikiran bukan perasaan sehingga bisa berdialektika dengan ide atau gagasan meski sekarang ini ada perbedaan posisi politik. Ini realitas yang harus diakui para alumni KAMMI meskipun tidak mudah, karena perbedaan posisi politik berbeda dengan perbedaan posisi yang lain.

Politik jelas akan ada intrik, manuver dan hidden agenda, disinilah sebenarnya mengapa ketika organisasi terjebak pada ruang politik maka akan lebih njlimet. Butuh fikiran, kematangan dan kedewasaan untuk mengatasi semua ini. 

Penulis,
Karnoto
Founder MahartiBrand, CEO Maharti Citra Media (BantenPerspektif.Com)
Mantan Jurnalis Jawa Pos Group (Radar Banten)
Mantan Jurnalis Majalah Warta Ekonomi Jakarta
Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising 
di Univ.Mercu Buana Jakarta

Pages