Diplomasi Kuliner Anies Baswedan

Anies Baswedan, Gubernur Jakarta berbincang - bincang dengan salah satu anak yang merupakan putera dari pemili Warung pecel lele  usai memantau MRT.

Sebelum mengulas headline tema ini saya ingin mengulik sedikit atau lebih tepatnya mengingatkan kepada pembaca bahwa dalam politik kita akan lebih sering membaca simbol yang terselip dalam aktivitas komunikasi publik yang dilakukan oleh seseorang. 


Memang simbol komunikasi dalam politik sering bersayap tetapi kita sebenarnya bisa membaca atau mendeteksi dengan cara mengkoneksikan dengan peristiwa sosial politik yang terjadi.


Ketika dalam suatu momentum politik semisal pilkada lalu ada elit partai politik melakukan pertemuan maka itu bisa dibaca sebagai simbol bahwa mereka akan membangun koalisi walaupun belum tentu dalam pertemuan tersebut membahas masalah tersebut. 


Namun karena ada momentum pilkada maka itu seperti mengirimkan pesan terkait isu pilkada.


Anies Baswedan saat makan rawon bersama pegawai DKI Jakarta.


Terjemahan kata simbol sendiri cukup banyak dari para ahli, tetapi secara garis besar simbol adalah tanda. Dalam etimologinya simbol berasal dari bahasa Yunani symballo yang artinya melempar bersama-sama, melempar atau meletakkan bersama-sama dalam satu ide atau gagasan objek yang kelihatan, sehingga objek tersebut mewakili gagasan. 


Simbol dapat mengantarkan seseorang ke dalam gagasan masa depan maupun masa lalu. Menurut Herbert Blumer (1962) beliau menungkapkan bahwa simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk saling berinteraksi antar sesama manusia. 


Pengertian simbol menurut Budiono (2005) menyatakan sebuah simbol itu berasal dari kata symbolos (Bahasa Yunani) yang memiliki arti tanda yang menjelaskan suatu hal kepada seseorang. 


Tentu masih banyak para ahli yang memiliki terjemahannya masing - masing soal pengertian simbol. Mengapa saya mengingatkan soal simbol dalam komunikasi politik dalam tema ini? 


Tidak lain adalah ini terkait dengan komunikasi Anies Baswedan beberapa pekan hari terakhir ini, yaitu Februari dan Maret 2021.




Dengan diplomasi kulinernya Anies seperti sedang mengirimkan pesan atau simbol kepada publik atau tepatnya rakyat Indonesia dengan cara icip - icip menu makanan khas dari berbagai daerah. 


Suatu hari Anies makan Rawon, pecel lele, nasi padang dan makanan khas lainnya yang memiliki koneksitas dengan asal makanan tersebut.


Saya membaca bahwa Anies sedang bermain dengan simbol komunikasi politik dengan cara elegan, beretika dan beradab. Mengapa saya sebutkan beretika? Pertama hal itu adalah menjadi salah satu karakter kuat Anies selama ini.


Kedua, disaat bersamaan ada peristiwa politik yang menyedot perhatian publik menimpa Partai Demokrat, dimana AHY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat disingkrikan melalui Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat yang menghasilkan keputusan bahwa Ketua Umum Demokrat yang baru adalah Moeldoko.


Kehadiran Moeldoko dalam kasus ini mendapat sorotan soal etika, mengingat dia adalah pejabat negara yaitu Kepala Staf Kepresidenan dan bukan kader Demokrat. Dan Anies pasti membaca soal ini.


Pada bagian lain nama Anies sudah leading menjadi salah satu calon Presiden Indonesia pada Pemilu 2024. Hasil survei sejumlah lembaga menunjukan bahwa Anies memang unggul dibandingkan dengan nama lain.


Oleh karena dia politisi yang memegang kuat soal etika maka cara dia menyapa rakyat Indonesia di luar Jakarta adalah melalui diplomasi kuliner. 


Melalui diplomasi kuliner Anies seperti mengirimkan pesan kepada rakyat Indonesia di seluruh daerah bahwa dirinya siap maju pada Pilpres 2024.


Cara ini jelas beretika dan elegan daripada Anies keliling ke sejumlah daerah di luar Jakarta. Jika ini dilakukan maka Anies akan dikesankan ambisius dan akan menjadi bahan gorengan mereka yang tidak pro Anies.


Ini terjadi pada Tri Rismaharini, Menteri Sosial yang melakukan komunikasi publik yang buruk menurut saya pada konteks menjelang Pilkada Jakarta.


Risma blusukan di Jakarta beberapa hari pasca dilantik menjadi Menteri Sosial, padahal saat itu ada persoalan serius yang  menimpa kementerian ini dengan adanya kasus korupsi dana bantuan sosial hingga menyeret nama menteri sebelumnya dan dipenjara.


Sejatinya Risma membereskan persoalan serius soal korupsi di tubuh kementerian yang ia pimpim, bukan justru asyim ngubek Jakarta. Apalagi posisinya dia sekarang adalah menteri bukan lagi Wali Kota Surabaya.


Bagi kacamata publik yang kritis jelas apa yang dilakukan Risma tidak elegan. Nah, Anies seperti sedang memberikan pengajaran kepada publik, politisi bagaimana cara berpolitik yang elegan dan beretika. Tetap kompetisi tetapi tidak memalukan dan terkesan mengabaikan etika.


Diplomasi Anies sekaligus mereduksi persepsi sebagian publik bahwa dalam politik tidak mungkin bisa menerapkan etika. Tetapi faktanya Anies mampu melakukan hal itu. Dia tetap bisa berkompetisi tetapi juga menjaga etika.


Itulah salah satu kehebatan Anies, dia mampu menggerakan, membalas serangan tanpa dendam dan elegan serta kemampuan memberikan teladan akan ucapannya.


Diplomasi kuliner yang dilakukan Anies sarat dengan pesan kuat yang berisi pesan kesiapan, pesan kritikan kepada mereka yang mengabaikan etika dan pesan keteladanan bagi generasi muda bagaimana cara berpolitik yang beretika.


Pada setiap melakukan diplomasi kuliner, Anies pasti keluar statement filosofis yang bukan sekadar makanan - sih,   tetapi ada value di dalam statement yang ia tuliskan cukup panjang dan menjadi sebuah artikel yang kemudian menjadi referensi sejumlah media. 


Bagi Anda yang belum membaca tulisan Anies saat diplomasi kuliner silahkan klik Diplomasi Kuliner Anies Makan Pecel Lele. 


Penulis, Karnoto
Founder MahartiBrand, CEO Maharti Citra Media (BantenPerspektif.Com)
Mantan Jurnalis Jawa Pos Group (Radar Banten)
Mantan Jurnalis Majalah Warta Ekonomi Jakarta
Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Univ.Mercu Buana Jakarta


Pages