PerspektifTV

Adsense

Sandi Efect, Anies Dipepet


Sandi memang terlalu cepat larinya dalam politik, mungkin dia terbawa kebiasaan hobinya yaitu lari. Beberapa tahun memutuskan masuk gelanggang politik dia langsung maju menjadi calon Wakil Gubernur Jakarta dan terpilih.

Belum juga setengah lapangan Sandi sudah lari dengan kecepatan tinggi menjadi calon Wakil Presiden dan kalah. Dia rupanya tidak terbiasa dengan jalan cepat apalagi jalan santai, tapi terbiasa dengan lari cepat.

Kini, Sandi pun lari cepat lagi setelah resmi masuk ke istana menjadi menteri. Ritme larinya terlalu cepat padahal arena permainan politik berbeda dengan arena bisnis. 

Soal Kecewa
Soal kekecewaan pada sebagian publik sih wajar saja, mereka juga tidak bisa disalahkan karena semula mereka punya ekspetasi kepada Sandi yang diharapkan menjadi generasi pencerah dengan  mengubah gaya bermain politik yang out of the box.

Ternyata Sandi kelelahan mengikuti ritme permainan para politisi kawakan yang sudah berpengalaman yang suka ngajak muter muter lapangan. Mungkin karena dia mengira gaya lari politik sama dengan gaya lari dalam dunia bisnis jadi dia tidak berani menolak.

Salahkah para pendukungnya menumpahkan kekecewaan? Tidak juga. Yang harus Anda tahu mayoritas pendukung Sandi itu Middle Clas, jadi akan cepat pulih dari kekecewaan. Saya yakin itu, justru kedepan ini akan merugikan karir politik Sandi sendiri karena reputasinya sebagai politisi yang tadinya punya kekhasan dengan permainan gaya baru ternyata takluk dengan gaya permainan lawas.

Seperti yang sebutkan di atas bahwa pendukung Sandi adalah kelas menengah maka kekecewaannya ga akan lama akan segera pulih kembali dan akan segera mencari figur baru.

Karena mereka terdidik maka pendukung Sandi punya kemampuan untuk recovery kekecewaaan dan saya percaya itu mereka pasti mampu melakukannya.

Yang unik justru penonton di luar tribun ikutan ramai dan menghujat penonton yang ada di dalam lapangan. Indonesia gitu loh, penontonnya lebih ramai daripada pemain yang ada di tribun dan penonton di luar tribun ga kalah ramainya. 

Efek Psikis ke Anies
Kasus Sandi  akan berdampak terhadap dukungan kepada Anies Baswedan. Mereka mulai ada trauma, jangan jangan nanti Anies akan sama dengan Sandi. Dan buat mereka yang selama semangat melakukan demarketisasi mendapatkan angin segar setelah Sandi masuk ke istana.

Kita tahu Anies terlalu kuat jika dilawan head to head dengan isu. Anies striker handal, bisa mengolah umpan lambung, bisa tendang jarak dekat dan bisa menggocek isu dengan rapi sesuai target. Beberapa mau dijebol gawang reputasinya tapi selalu gagal, Anies terlalu cerdas untuk dilawan head to head.

Upaya Anies dengan gaya permainan politik baru kini mulai dihadapkan pada tantangan internal akibat efek dari keputusan Sandi. Sandi mungkin tidak begitu berfikir jangka panjang, maklum saja dia terlalu "lugu" untuk bisa membaca ini.

Kepolosannya jelas diperlihatkan ketika dia mau dijadikan calon Wakil Presiden, berbeda dengan Anies dia cukup cerdik sehingga berani menolak permintaan menjadi calon wakil presiden pada pemilu 2019. Mungkin karena terlalu lama di luar negeri sehingga Sandi mengira permainan politik di Indonesia sama dengan di luar negeri.

Atau mungkin sepanjang hidupnya dia hanya menemui dan berteman dengan orang baik dan jujur sehingga tidak pernah tahu watak yang suka berpura pura.

Dalam kompetisi strategi yang sering dilakukan sebelum dimulai di lapangan adalah kompetisi psikis. Coba Anda perhatikan tinju, biasanya mereka akan adu kontak mata, saling bergaya untuk menjatuhkan psikis lawan.

Saya tidak percaya Sandi direkrut menjad menteri hanya semata mata soal kemampuannya dia, kita mesti harus ingat menteri itu jabatan politis. Sudah pasti ada unsur politiknya. ***

Posting Komentar

0 Komentar