PerspektifTV

Adsense

Risma ke Jakarta, Anies Cemas?


Saat Anies tidak mendapatkan panggung pada ASEAN Games Anies juga tetap tenang, santai. Ketika dia disoraki ketika menghadiri pernikahan putera Jokowi di Solo, Anies juga tenang malah melempar senyum kepada mereka yang menyoraki.

Penulis | Karnoto

Di linimasa banyak banner dan tulisan dengan kalimat bernada sindirian diantaranya tulisan "Risma ke Jakarta, Anies Cemas". Tapi persepsi itu sebenarnya biasa - biasa saja, karena terkadang dalam politik pura - pura meributkan asap padahal sebenarnya mereka sendiri yang membuat asap.

Yah, namanya juga politik lebih banyak pura - puranya, miriplah drama Korea atau sinetron tersanjung yang episodenya panjang tapi tidak jelas sebenarnya apa yang didapatkan dari penonton selain hiburan.

Problemnya adalah kalau sinetron tidak pakai uang negara, tapi kalau pejabat main sinetron pasti pakai duit negara. Tapi situasi sekarang memang rakyat lagi butuh banyak hiburan akibat himpitan ekonomi yang belum jelas kapan ada perbaikan.


Kembali ke tema soal Risma ke Jakarta, Anies Cemas? Ini saya curiga jangan jangan mereka sendiri yang sebenarnya cemas. Rekam jejak Anies tidak ada kecemasan dalam menghadapi apapun.

Dulu, ketika dipecat dari Menteri Pendidikan Anies juga santai, slow dan tidak teriak teriak, ngamuk apalagi mulutnya keluar api, sama sekali tidak. Bahkan Anies juga tidak pernah menyalahkan Jokowi terkait masalah ini, santai aja.

Saat dirinya diminta maju pada Pilpres 2019 Anies juga menolaknya dengan tenang. Saat Anies mendapat perlakuan yang tidak semestinya pada turnamen sepak bola TimNas sampai sampai tidak dibolehkan berdiri di panggung tengah lapangan saat penyerahan medali di GBK Jakarta, Anies juga tenang, santai.

Bahkan gara - gara inilah muncul istilah Gubernur Indonesia. Istilah ini kali pertama diluncurkan oleh politisi PDI Perjuangan Maruar Sirait saat konferensi pers. Dan istilah ini sampai sekarang menjadi seperti branchmark Anies Baswedan.

Saat Anies tidak mendapatkan panggung pada ASEAN Games Anies juga tetap tenang, santai. Ketika dia disoraki ketika menghadiri pernikahan putera Jokowi di Solo, Anies juga tenang malah melempar senyum kepada mereka yang menyoraki.


Bayangkan itu di acara hajatan pernikahan dan dirumahnya Jokowi. Coba Anda cek acara hajatan mana yang tamunya disoraki? Tapi Anies ya Anies, pribadi yang tenang.
Belum lagi fitnah jurus dewa mabok para Buzzer ya, sudah tidak terhitung dan mereka justru yang kepayahan Karena diujungnya mereka gol bunuh diri.

Jadi, kalau kedatangan Risma akan membuat Anies Cemas mendingan diralat, karena nanti mereka sendiri yang akan cemas. Risma sih menurut saya belum ada apa apanya dibandingkan Ahok. Toh, Anies tetap bisa meladeni dengan santai dan tenang.

Pendukungnya Anies Cemas? Saya prediksinya ga juga karena buat apa mereka cemas, Aniesnya aja tenang dan santai, buat apa pendukungnya cemas. Anies itu tipikal pemimpin yang punya kemampuan menggerakkan dan skill emosional yang cukup baik.

Apakah pernah melihat Anies marah marah, teriak teriak dan mempermalukam anak buahnya? Sejauh ini tidak pernah. Tidak tegas dong Anies? Ga juga, Anies dah beberapa kali pecat pegawai nya loh yang terbukti melakukan kesalahan.

Tegas itu beda Ama keras, keras belum tentu tegas. Tegas itu pada sikap bukan teriakannya. Meski kadang kadang butuh suara keras. Tapi kalau Anies memilih ketegasan itu pada kebijakan.

Dan Anies itu adil, HRS aja dikenakan denda padahal dia pendukung saat pilkada. Jadi, saya sih percaya Anies santai dengan kedatangan Risma di Jakarta. Malah dia sebenarnya senang akhirnya ada lawanya juga sehingga ada pertandingan yang nantinya jadi tontonan warga.

Walaupun sebenarnya sih level isu ketokohannya sudah tidak seimbang, Anies sudah masuk ke ruang isu sebagai calon presiden sementara Risma baru masuk ke ruang calon Gubernur Jakarta.
Mungkin kalau saya boleh memvisualisasikan Anies akan bilang ke Risma "Silahkan Bu Risma masuk ke Jakarta dan maju pilkada Jakarta, karena biar ada teman lawan main,"

Yang tahu kelemahan Anies cuma Jokowi tapi Anies juga tahu kelemahan Jokowi. Karena mereka pernah satu pesawat, dekat sekali sehingga mereka berdua tahu sama tahu. Makanya mereka berdua jarang terlibat saling sindir terbuka, ada memang beberapa kali tetapi itupun secara halus.


Anies Ahli Menggocek Isu
Asal tahu saja salah satu kelebihan Anies dalam permainan politiknya selama ini adalah kemampuannya menggocek isu, mulai dari umpan lambung maupun jarak pendek. Beberapa kali dia diberi umpan lambung yang dikira akan memasukan gol justru membuat mereka melakukan gol bunuh diri karena sejumlah fakta yang disajikan Anies justru memukul mundur mereka.

Isu seputar pohon imitasi, revitalisasi trotoar, revitalisasi JPO, revitalisasi stadion, reklamasi dan isu - isu lainnya hampir semuanya bisa digocek oleh Anies dengan permainan yang cantik, halus tetapi mematikan lawan dan mayoritas yang menyerang Anies akhirnya kalah mengenaskan dan penuh penyesalan karena gol bunuh diri.

Anies memang bekerja berlandaskan data dan filosofi sehingga hasilnya bukan hanya tampak secara fisik, tetapi penuh penjelasan mengapa ia melakukan hal tersebut. Saya contohkan kasus revitalisasi trotoar di Jakarta.


Oleh lawannya Anies diserang habis - habisan terkait lebarnya trotoar sekarang di Jakarta. Mereka menganggap program tersebut tidak efektif karena mereka berfikir seharusnya Anies melakukan revitalisasi kendaraan transportasi bukan trotoar. Padahal apa yang mereka fikirkan sudah direncanakan Anies. Hanya saja cara kerjanya yang berbeda, Anies bukan tipe orang yang grusa grusu demi pujian.

Lalu apa yang dijelaskan Anies soal trotoar? Ketika publik disodorkan pertanyaan oleh Anies pada acara TVOne soal sarana transportasi apa yang dimiliki semua orang dan mudah dilakukan? Mayoritas menjawab sepeda dan sepeda motor. Padahal, kata Anies bukan itu melainkan kaki.

Itulah mengapa ia membuat revitalisasi transporasi di Jakarta dimulai dari trotoar karena akan menjadi sarana yang bisa dipakai semua orang. Bukan hanya itu, dengan jalan kaki yang nyaman, tenang maka akan ada interaksi budaya, ada interaksi antar warga sehingga mereka bisa saling sapa sesama pejalan kaki.


Baru setelah trotoar rapi Anies melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), kendaraan transportasi massal, mulai dari TransJakarta, Angkutan Kota, Kereta Api, sepeda hingga becak pun ia urus. Inilah pemimpin yang bekerja dengan landasan filosofi kuat bukan hanya oritentasi fisik semata, bukan juga tipe pemimpin yang penting kerja, kerja dan kerja, tapi ia berorientasi bagaimana kerjanya runut, berdasarkan data dan sistematis.***

Posting Komentar

0 Komentar