HelldySanuji dan Ekspetasi Publik

Karangan bunga dari berbagai kalangan sebagai ucapan selamat kepada HelldySanuji atas kemenangannya pada Pilkada Kota Cilegon 2020.

Pasca ramai bahwa HelldySanuji menjadi pemenang beragam quotes, tulisan pinggir, artikel, ucapan termasuk harapan dari publik begitu tinggi. Yang saya baca ekspetasinya sudah di atas rata - rata. Maklum, kemenangan HelldySanuji bersejarah karena mampu mendobrak dinasti yang selama ini dinilai cukup kuat dan tidak mungkin terkalahkan.

20 tahun lebih dinasti menguasai singgasana Walikota Cilegon jelas sebagian orang menyangsikan HelldySanuji akan menang. Tapi ternyata mereka berdua ditakdirkan menang. Pekerjaan terbesar nanti mereka berdua adalah menjawab ekspetasi publik yang tinggi itu. Ekspetasi akan adanya perubahan yang digantungkan ke pundak mereka berdua harus dijawab dengan perubahan.

Jika tidak maka ekspetasi mereka akan berbalik arah menjadi penghakiman. Mereka berdua bisa belajar dari Anies Baswedan. Pertama, berpatoklah dengan janji yang pernah disampaikan. Ini penting supaya mereka berdua bisa menjawab pertanyaan publik kelak kalau ada yang menanyakan diluar janji yang mereka sampaikan.

Kasus ini pernah dialami Anies ketika diserang isu reklamasi. Saat itu ia diserang mengapa memberikan izin reklamasi Ancol. Anies pintar bahwa soal itu bukanlah masuk dalam janji kampanye, selain itu itu kasus Ancol bukanlah reklamasi seperti di Jakarta Utara, melainkan cara memanfaatkan lumpur yang selamat ini mengganggu.

Jadi itu, berpeganglah pada janji, tunaikan Janji itu jangan keluar dari pointer janji karena itu akan menjadi celah dan bisa melunturkan kepercayaan publik. Kedua, mereka berdua harus periodik bicara di depan publik soal update janji mereka yang audaht terpenuhi. Jadi, sebelum publik menanyakan mereka berdua harus terlebih dahulu menyampaikan ke publik.

Ketiga filosofis kebijakan, mereka berdua dieskpetasikan sebagai simbol orang terdidik, agen of change maka dia harus menampakan itu dengan filosofi kebijakan. Ingat dalam politik, kita bukan sekadar menjadi orang cerdas tetapi harus menampakan kecerdasan, bukan saja kita harus baik tetapi harus menampakan kebaikannya.

Ketika Anies menjelaskan revitalisasi trotoar dia bukan hanya sekadar membangun fisik tapi ada filosofi kebijakannya. Anies katakan bahwa alat transportasi yang semua orang miliki itu apa? Bukan sepeda, bukan motor apalagi mobil, melainkan kaki.

Maka dari itu sarana yang kali direvitalisasi adalah trotoar karena disitu semua orang bisa memanfaatkan. Lalu ketika dia membuat program integrasi transportasi Anies pun membangun dengan filosofis. 

Menurut Anies mengapa dia mau mengintegrasikan sarana transportasi dan pembenahan karena transportasi bukan sekadar proses perpindahan manusia dari titik A ke titik B, melainkan sebagai sarana saling menghargai, tuka budaya, tukar bahasa, melatih disiplin dan pengertian. 

Mengapa demikian? Karena di dalam transportasi umum akan ada interaksi sosial baik antar suku, bahasa maupun antar profesi, disitulah akan ada jembatan pengertian, saling mengerti tak peduli mereka berasal dari mana. Oleh karena itu supaya masyarakat mau menggunakan sarana umum maka harus diperbaiki supaya nyaman.

HelldySanuji tidak harus menggunakan filosofi yang sama dengan Anies karena problemnya juga berbeda, yang ingin saya sampaikan adalah jangan sampai mereka hanya bermodalkan kerja, kerja dan kerja.

Mereka harus memakai alur kebijakan sebagai seorang leader yaitu Ide, Narasi, Action dan Evaluasi, itulah cara Anies bekerja sehingga runut, sistematis dan pastinya lebih yakin. Sebab kalau dilihat dari aspek psikologi massanya, Anies dan HelldySanuji mirip yaitu ekspetasinya cukup tinggi bahwa akan ada perubahan dan merekalah simbol perubahan itu.

Penulis, 
Karnoto

Pages