Dibalik Re-Branding PKS

Ada beberapa alasan mengapa sebuah brand melakukan ReBranding diantaranya siklus produk itu mengalami decline atau titik kejenuhan. Titik jenuh itu bermacam -macam faktornya, seperti pangsa pasar yang mulai berubah sehingga brand tersebut harus melakukan penyesuaian atau bisa juga decline itu karena adanya peristiwa tertentu yang membuat citra brand menjadi negatif.

Pada kasus pertama terjadi pada produk komersial, salah satunya adalah brand rokok Djarum Cokelat 76. Sebelumnya brand ini diidentikan dengan pasar tua lalu melakukan re branding dengan melekukan modifikasi logo dan strategi komunikasi pemasarannya.

Makanya pasca Re-Branding Djarum Cokelat menggunakan endorse band - band anak muda dan eventnya pun didesain khas dengan anak - anak muda. Sementara pada kasus kedua kita bisa melihat kasus Peterpan, group band ternama yang melakukan ReBranding akibat adanya kasus yang menimpa vokalis mereka dan berganti nama menjadi Noah.

Sekadar mengingatkan, dalam teori komunikasi pemasaran ada teori yang disebut Produce Life Cycle, yaitu siklus sebuah produk. Semua brand pasti akan melalui siklus ini, yaitu introduction, growth, mature dan decline.

Siklus produk ini tidak hanya terjadi pada produk komersial tetapi juga terjadi pada produk lainnya termasuk politik.  Semua partai politik pasti akan menemui Product Life Cycle, yang membedakan hanyalah jedah dari mature ke decline.

Ada partai politik yang berada di posisi mature (mapan) hingga puluhan tahun, contohnya Partai Golkar. Partai ini berada di posisi mature (mapan) 32 tahun, ada yang belum mencapai mature langsung lompat ke decline. Ada pula yang standar, artinya mereka melewati semua proses siklus tersebut secara normal yaitu limat tahunan.

Pada konteks Re-Branding PKS, tampaknya alasan melakukan ReBranding lebih kepada alasan kedua yaitu penyegaran karena beberapa bulan menjelang Munas ke lima tidak ada peristiwa yang super heboh yang membuat PKS harus melakukan rRe-Branding.

Ini berbeda ketika ReBranding dimasa kepemimpinan Lutfhi Hasan, dimana ada goncangan yang hebat menimpa PKS. Ketika itu PKS pun melakukan ReBranding. Ini tampak dari perubahan tagline yang diubah dari Bersih, Peduli dan Profesional menjadi Cinta, Kerja dan Harmoni.

Jadi kemungkinan besar kalau saya baca ReBranding kali ini lebih kepada penyegaran menyesuaikan perubahan psikografis pemilih Indonesia. Kalau melihat dominasi warna pada logo baru PKS, saya membacanya PKS akan fokus menggarap pasar milenial, karena warna sekunder yang mendominasi masuk kategori warna "pnas" itu dalam teori psikologi warna artinya semangat dan dinamis.

Saya tidak tahu jenis kode warnanya, karena itu adalah warna sekunder, artinya perpaduan beberapa warna bukan warna primer. Ada yang menyebutkan kuning kunyit, jingga dan orange. Tapi yang pasti warna itu "menyala".

Nah, karakrter yang ada dibalik warna itu identik dengan anak -anak muda, milenial. Dalam buku berjudul Desain Komunikasi Visual, Rahmat Supriyono menegaskan bahwa warna panas itu artinya dinamis, aktif, mengundang perhatian dan semangat.

Jika dilihat dari psikologi warna yang disampaikan dalam buku itu terlihat jelas bahwa PKS sepertinya akan menggarap pasar milenial lima tahun kedepan, karena karakter dalam psikologi warna tersebut melekat pada generasi anak - anak muda dan milenial.

Mungkin saja ReBranding ini ada kaitannya dengan bonus demografis yang akan didapatkan Indonesia. Pasar milenial memang potensial, tetapi juga harus diingat bahwa milenial Indonesia berbeda dengan milenial di negara -negara maju yang berani independen dalam urusan politik.

Mengapa demikian? Karena milenial di Indonesia mayoritas tingkat ekonominya tidak semapan milenial di negara maju sehingga ini berdampak pada sikap independen milenial Indonesia dalam berpolitik.

Jumlah middle class Indonesia memang mengalami kenaikan, ada yang menyebutkan 100 ribu, 150 ribu bahkan 300 ribu. Dan kelas menengah inilah yang akan menjadi lokomotif gerakan sosial.

Namun ternyata dari jumlah kelas menengah di Indonesia masih didominasi generasi y, mereka yang lahir di era 70 dan 80 an, sebagiannya lagi generasi X. Sementara kelas menengah dari gen milenial masih sedikit prosentasenya. Itulah mengapa independensi politik milenial Indonesia  tidak seberani milenial di negara maju karena basic ekonominya belum tangguh.

Catatan kedua saya tetkait ReBranding PKS dengan logo barunya adalah terkait  aktivasi brandingnya. Ini selalu saya sampaikan berulangkali karena faktanya sering tidak match antara brand baru dengan aktivasi brandingnya.

Kalau saya istilahkan brand baru, cara lama atau brand baru, rasa lama. Jika ini yang terjadi maka logo baru tersebut tidak akan hidup karena tidak ruh yang digerakan dalam logo baru tersebut. Karena sesungguhnya ReBranding itu baru akan terasa ketika diikuti dengan aktivasi branding yang sesuai dengan brand baru tersebut.

Apakah brand baru PKS akan hidup atau hanya seperti jasad tanpa nyawa, nanti baru akan terlihat dari aktivasi branding yang mereka lakukan melalui Komunikasi Pemasarannya, baik komunikasi visual, advertising, event, public relation, direct selling maupun media planningnya.

Penulis,
Karnoto
Mantan Jurnalis Jawa Pos Group (RadarBanten)
Mantan Jurnalis Majalah Warta Ekonomi Jakarta
Founder Maharti Citra Media
Penulis Buku Speak Brand



Pages