Dibalik Kepercayaan Diri PKS Usung Kader Maju Pilgub Banten


Sebagian orang mungkin akan berfikiran kalau pemilihan Gubernur Banten masih lama, terlalu dini membicarakan saat ini apalagi baru selesai pilkada. Pendapat seperti ini ada benarnya kalau dibaca hanya memakai kacamata waktu, tapi kalau kita membacanya dalam persepektif politik maka akan berbeda.

Saya percaya mereka para politisi terutama partai politik khususnya yang punya niat maju sudah mulai pegang kalkulator politik untuk menghitung, saling manuver dan mulai gerilya saling cari kunci.

Pilgub Banten kedepan memang cukup banyak stok, ada nama Wahidin Halim, Andika Hazrumy, keduanya saat ini masih dalam satu kamar tetapi kita tahu apakah mereka masih bisa mempertahankan hubungannya atau justru berlawanan, perkiraan saya mereka berdua akan bersebarangan. 

Selain mereka berdua saya perkirakan nama - nama berikut ini akan menghiasi dinamika  Pilgub Banten  saatnya nanti. Mereka diantaranya, Iti Octaviati (Bupati Lebak), Edi Ariadi (Walikota Cilegon), Airin Rachmy Diany (Walikota Tangsel) dan Zaki Iskandar (Bupati Lebak) mereka adalah para kepala daerah yang akan mengakhiri masa jabatannya dan tidak bisa maju lagi karena sudah dua periode.

Selain nama di atas akan ada pula nama Dimyati Natakusumah, anggota DPR RI Fraksi PKS. Nama inilah yang kemudian membuat saya menulis judul Kepercayaan Diri PKS dan Dimyati.

Mengapa saya tulis percaya diri? Ada beberapa alasan, pertama  karena PKS pada Pilgub mendatang tidak lagi hanya jualan militansi seperti Pilgub sebelumnya, tapi ada sosok Dimyati Natakusumah. Jadi Pilgub kedepan PKS punya modal dua, infrastruktur partai dan tokoh yang bisa dijual.

Rekam jejak Dimyati dalam urusan gocek menggocek bola politik jelas tidak diragukan lagi. Dia politisi kawakan, lincah dan cerdik. Gaya permainan melingkar Dimyati harus diakui cukup berhasil. 

Meski dia adalah politisi PKS, tapi dia membagi peran dengan tim keluarganya. Anaknya yaitu Rizki Dimyati Natakusumah adalah politisi Demokrat, sedangkan Irna dibiarkan di tengah pasca gagal merebut Ketua Umum Demokrat Provinsi Banten dan sebagai gantinya adalah puterinya yaitu Rizka yang pada Pemilu 2019 maju sebagai caleg DPR RI Partai Nasdem meskipun belum berhasil.

Memang belum ada jaminan bahwa ketika Dimyati maju lalu Nasdem dan Demokrat akan mendukungnya.

Alasan kedua mengapa saya tuliskan kepercayaan diri, karena saya membaca PKS dan Dimyati  akan seperti gadis primadona atau menjadi bandul pada Pilgub Banten kedepan, khususnya bagi Wahidin Halim dan Andika ketika keduanya nanti berpisah. Andaikan WH dan Andika masih bergandengan tangan pun PKS masih bisa memilih alternatif lain.

Calon lain pun pasti akan mengejar tiket dari PKS. Karena infrastruktur kadernya cukup bisa diandalkan.

Alasan ketiga mengapa saya sebut PKS dan Dimyati percaya diri ,karena efek kemenangan Sanuji Pentamarta pada Pilkada Cilegon 9 Desember 2020, dimana Sanuji mampu membuat sejarah baru bersama Helldy Agustian, politisi Partai Berkarya mengalahkan incumbent sekaligus politisi Partai Golkar yang sudah mengakar.

Ada efek psikologi bagi PKS dari momentum kemenangan Sanuji di Cilegon karena lawannya cukup berat, selain incumbent Ratu Ati Marliati juga memiliki loyalis. Maklum saja 20 tahun lebih keluarga besarnya mengendalikan Kota Cilegon. Namun faktanya HelldySanuji menang.

Psikologi kemenangan Sanuji pada Pilkada Cilegon jelas akan meningkatkan kepercayaan diri PKS dan Dimyati. 

Dan saya meyakini PKS pada Pilgub nanti akan menjual Dimyati, karena diinternal PKS hanya nama dia yang bisa mengimbangi Wahidin Halim, Andika, Iti, Edi dan Zaki.  Ketokohan Dimyati terlalu sayang untuk tidak dijual sebagai entry point' untuk menambah nilai lebih PKS.

Pada Pilgub lalu mungkin saja PKS hanya dipandang infrastrukturnya olah para calon, tapi ketika nama Dimyati muncul maka PKS akan dapat dua nilai lebih, yaitu infrastruktur PKS dan nama Dimyati Natakusumah.

Penulis,
Karnoto


Pages