Di Jakarta, Risma Bangun Imaje Pakai Cara Lama


Menteri itu jabatan politis sebagaimana jabatan kepala daerah. Oleh karena jabatan politis maka sudah dipastikan mereka punya kepentingan politik.

Penulis | Karnoto

Apakah Anda percaya apa yang dilakukan para menteri lepas dari hasrat imaje building personalitynya? Kalau saya tidak percaya karena jabatan menteri sendiri adalah jabatan politis bukan jabatan karir atau biokrat. Oleh karena menteri adalah jabatan politis maka pasti tidak akan lepas dari kepentingan politik, itu sudah pasti include dari hidden agenda. Dan itu sah - sah saja karena untuk membangun imaje personalitynya dihadapan publik.

Dalam kasus Tri Rismaharini atau biasa disapa Risma saat menemukan beberapa pemulung di Jalan protokol Thamrin Sudirman Jakarta maka itu jelas nuansa politisnya kentara. Dilihat dari sudut pandang manapun publik bisa sudah membaca pesan yang tersembunyi dan ingin tersampaikan kepada publik.

Dari sisi personality Risma sebenarnya tidak ada masalah karena selama ini memang dia berupaya membangun personal brandnya sebagai pejabat yang dekat dengan warganya, tanpa jarak. Hal ini ia lakukan saat masih menjabat Walikota Surabaya, Jawa Timur. Namun jika dilihat dari positioning dan timingnya jelas ada problem sehingga bukanya empati publik tapi justru sentimen negatif.

Dari sisi timing misalnya, ada persoalan yang jauh lebih serius dan njlimet dihadapan Risma dengan jabatan barunya sebagai Menteri Sosial. Masalah itu adalah terkait bantuan sosial yang merupakan kebijakan menteri lama dan bermasalah karena ternyata dikorupsi. Tidak tanggung - tanggung triliunan rupiah ditengah kondisi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid - 19.

Publik berharap Risma bicara soal pembenahan bantuan sosial dan apa yang hendak ia lakukan sebagai Menteri Sosial disebuah lembaga yang sedang menghadapi masalah serius yaitu korupsi. Sayangnya justru Risma diarahkan dengan persoalan yang teknis padahal sejatinya seorang menteri konsen kepada kebijakannya karena tandatangannyalah yang jauh lebih penting ketimbang blusukannya.

Apa yang diarahkan oleh orang disekeliling Risma dengan mengesankan "menjauh" dari persoalan korupsi yang dihadapi Kementerian Sosial justru ini menodai brand personal Risma selama ini. Stigma negatif justru lebih mendominasi ketimbang empati dan ini merugikan personal brand Risma sendiri yang telah ia bangun puluhan tahun.

Padahal untuk memperkuat brand personal Risma di Jakarta tidak harus blusukan dari jembatan ke jembatan. Ini cara lama yang dinilai publik membosankan karena faktanya sejumlah pejabat yang melakukan hal seperti itu tidak menjamin membawa kebaikan dan perbaikan bagi masyarakat.

Upaya Risma membangun citra di Jakarta diawali dengan sentimen negatif sekaligus ini kemenangan untuk Anies Baswedan pada ronde pertama pertandingan jelang Pilkada Jakarta, padahal titik awal inilah yang nantinya akan menjadi penentu apakah Risma benar - benar layak untuk warga Jakarta atau justru sebaliknya. Langkah awal Risma di Jakarta langsung diarahkan bersentuhan dengan sentimen publik.

Kalau saya membacanya ada pesan khusus yang mau diarahkan ke Gubernur Jakarta Anies Baswedan terhadap aktivasi branding yang dilakukan Risma. Dan Anies juga paham pesan khusus itu karena Anies juga seorang politisi meski dia tidak menjadi kader partai, tapi jabatan sebagai Gubernur juga jabatan politis.

Jadi timnya Risma kurang cerdik membaca lapangan Jakarta dengan penjaga gawang seorang Anies Baswedan. Melihat gaya Anies memang santai tapi sesungguhnya dia seorang politisi cerdas yang pandai membaca kode, situasi dan dinamika. Dan hebatnya dia bisa mengatasi itu dengan tenang dan menembak balik tanpa dia yang harus melakukannya. Apalagi tipikal Risma mirip - mirip dengan Ahok, seorang yang pernah dikalahkan Anies saat pilkada Jakarta beberapa tahun lalu. Jelas Anies pasti sudah mengerti cara menghadapinya.

Yang pasti saya melihatnya skor sudah 1:0 untuk Anies pada ronde pertama pertandingan jelang Pilkada Jakarta. Tendangan jarak dekat Risma salah strategi. Mungkin Ting tengnya lupa kalau yang dihadapi itu Anies Baswedan.**

Pages