Kisi - Kisi Konten Iklan dalam Al Quran


Salah satu ciri orang - orang besar itu adalah kemampuannya dalam meracik kata - kata menjadi kalimat yang filosofis, bermakna dalam dan sarat dengan nilai.

Karena memang mereka akan sering tampil di publik dan ditunggu kalimatnya. Maka sejatinya memang seorang leadership sejati memiliki pabrik kata - kata yang kaya akan gizi fikiran dan nutrisi nurani sehingga kalimatnya mampu menggerakan.

Seorang leadership sejatinya memiliki pabrik kata - kata dan keahlian meramu kata menjadi kalimat karena mereka akan menjadi referensi orang banyak.
Sebab ada dua hal kramat yang dimiliki seorang leadership dan tidak dimiliki orang biasa, yaitu tandatangan dan ucapan.

Orang biasa mungkin bisa tandatangan dan ucapan, tapi tidak sekramat tandatangan dan ucapan seorang pemimpin.
Ucapan mereka harus mampu menggerakan bukan membosankan, ucapan mereka harus mencerahkan bukan mengkerdilkan.

Itulah mengapa Nabi Musa minta didampingi seorang ahli kata - kata saat beradu argumentasi dengan Raja Fir'aun karena Musa sadar bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan soal meramu kata dan kalimat.
Racikan kata dan ramuan kalimat dari seorang pemimpin akan selalu ditunggu banyak orang. Tidak hanya itu ramuan kalimat yang disuguhkan seorang leadership juga akan menjadi referensi orang untuk melakukan sesuatu.
Kalau Anda ingin memiliki kecerdasan meramu kata - kata belajarlah dari Al Qur'an, disana akan Anda temukan bagaimana Al Qur'an membuat perumpamaan, bagiamana ayat - ayat Al Qur'an punya kemampuan menggerakan, bagaimana cuplikan kisah yang diracik dengan kata - kata memiliki emosi.
Kalau ayat - ayat Al Qur'an dengan kandungan gizi pada kalimatnya yang sempurna itu ditulis oleh Nabi Muhammad SAW jelas tidak mungkin. Ditinjau dari sisi apapun tidak masuk akal kalau ayat dalam Al Quran dibuat oleh Nabi Muhammad Saw.
Kembali pada tema, jadi Al Qur'an kalau kita baca terjemahannya maka akan Anda temukan bagaimana AlQuran mengajarkan kita cara meracik kalimat dan meramu kalimat supaya kaya akan gizi, bermakna dan kalimat itu memiliki kemampuan menggerakan.
Dari sini saya menjadi mengerti mengapa pemimpin Islam zaman dulu, mulai dari Nabi Muhammad saw, khalifah Abu Bakar, Utsman Bin Affan, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib sampai Sultan Hamid kata - katanya mampu menggerakan karena mereka belajar dan dekat denganAl Qur'an.
Bagimana Al Quran menyusun kalimat untuk menggerakan orang bersedekah, zakat, haji dan lain sebagainya. Saya kutip satu ayat saja selebihnya Anda cari sendiri.
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui." Surat Al-Baqarah ayat 261.
Coba Anda perhatikan cara Al Qur'an meracik kata demi kata menjadi kalimat pada ayat di atas, luar biasa bukan?

Kalimatnya hidup, mampu menggerakan, nyastra, terstruktur. Tentu saja masih banyak kutipan ayat dalam Al Qur'an yang bisa Anda jadikan inspirasi untuk melatih kemampuan meracik kata dan meramu kalimat yang kaya akan gizi nurani, kaya akan nutrisi hati dan mampu menggerakan.
Dari sini saya percaya bagi mereka para leadership yang dekat dengan Al Qur'an, menghayati dan memahai ayat demi ayat yang ada di dalam Al Qur'an maka akan otomatis memiliki kemampuan meramu kalimat.
Penulis,
Karnoto

Pages