Adu Brand Partai Politik

Kompetisi merebut pasar itu hal biasa dan pasti terjadi, tidak cuma dalam bidang bisnis, bidang yang lain seperti lembaga sosial termasuk politik.

Semangat kompetisi bagi seorang Muslim itu sebenarnya memang harus dimiliki karena sudah ada pemicunya dengan kalimat "berlomba - lombalah dalam hal kebaikan". 

Jadi memang sejatinya gen seorang Muslim itu harus punya semangat kompetisi. Dalam konteks politik pun harus demikian. Soal etika bersaing bagaimana?

Ya pasti sudah ada rambu - rambunya, jangankan politik dalam bisnis yang notebene hanya profit oriented pun memiliki aturan main bisnis dan persaingan. Meski pada praktiknya ada juga pelanggaran - pelanggaran, namanya juga manusia.

Mengelola partai politik dizaman seperti sekarang memang tidak bisa dikelola dengan manajemen konvensional. Dan salah satu adaptasi itu adalah kemampuan partai politik membuat konsep branding, mulai dari konsep marketing Communication, konsep advertising, konsep public speaking, konsep media planning.

Sebab jika tidak maka hampir dipastikan cepat atau lambat akan ditinggalkan calon pemilih, apalagi brand itu pasti akan mengikuti product life Cycle, yaitu siklus sebuah produk, ini pasti. Adu brand itu bukan sekadar adu keindahan logo, tapi lebih jauh dari itu adu konsep mengkomunikasikan brand tersebut, adu konsep soal bagaimana bisa menjangkau calon pemilih.

Itulah mengapa sekarang tenaga - tenaga orang MarComm (marketing Communication) dibutuhkan seperti halnya perusahaan. Sya berani menjamin semua perushaan besar pasti punya orang MarComm. Tenaga orang MarComm dalam sebuah partai politik memang dibutuhkan, merekalah yang pekerjaan mengcreate, mendesain dan membuat konsep komunikasi marketing politik yang muaranya pada konsep branding.

Kelihatan kok, parpol yang memiliki SDM Marcomm dengan parpol yang tidak memiliki tenaga tersebut.Mustahil parpol tersebut akan dinamis kalau tidak punya orang MarComm. Mustahil branding parpol akan bisa bekerja optimsl tanpa punya orang MarComm. Jadi, kebutuhan sekarang bagi parpol memang bukan sekadar Humas atau seorang Public Relation, melainkan MarComm.

Sebenarnya sih perusahaan perusahaan ternama sudah memulai trend ini sejak lima tahun terakhir. Coba Anda cek pada perusahaan besar dan ternama, pasti mereka sekarang memakai Maracomm. Sebelumnya mereka hanya mengandalkan seorang Humas atau Public Relation.

Pages